4 Mei 2015

Mau Tidak, Ya?

Mungkin kita masih terlalu jauh dari Zona Abu
Mungkin kita menutupinya sendiri tanpa kita sadari
Atau mungkin Zona Abu sebenarnya tidak ada

Tapi barangkali Semesta mau berkompromi
Dengan hela napas dan deru langkah
Dengan berjalan mundur
Merangkak
Atau menutup mata

Sampai akhirnya kita bertemu
Saat waktu terhenti
Hela memulih
Dan kita berdiri
Di titik
Yang berubah
Menjadi Zona Abu itu sendiri


Ah, barangkali Semesta mau berkompromi
Tapi bahkan ia tidak mau memberi tahu apa-apa
Lalu bagaimana kita tahu
Jika Semesta mengatakan, "Iya"?

23 Apr 2015

Persiapkan Dirimu, Kita Akan Bertemu

Jika kau luaskan pandanganmu, kau akan lihat betapa kita begitu berbeda. Terkotak di dalam hitam dan putih.  

Aku dan kamu. 
Aku atau kamu. 
Diagram himpunan tanpa irisan.

Tidak kah kau heran?

Rak buku kita berbeda. Setiap kita pergi ke toko buku, kita saling menuju arah sebaliknya. Kau ke kanan, sedangkan aku ke kiri. Kau tenggelam di buku biografi tokoh favoritmu, saat aku tersesat di dunia distopiaku. Bahkan ketika akhirnya aku menemukanmu berjejalan diantara buku yang tidak aku mengerti,  kau tidak juga mengadahkan kepala. Sibuk membaca buku sejarah sambil berdiri (suatu hal yang tidak aku sukai, tapi pada akhirnya aku ikut melakukannya juga. Haha).  Apakah kau juga pernah menemukanku  saat tersenyum sendiri membaca kumpulan puisi? Ah, semoga saja tidak.

Apalagi? Selera musik kita juga berbeda. Lihat playlistku, bandingkan dengan punyamu. Adakah lagu yang dapat kita nikmati bersama?  Kau sedang bernyanyi indie, saat aku menghentak-hentak sendiri mendengar alternative. Kau perkenalkan Sore kepada Paramore-ku. Ternyata  mereka tidak begitu akur.

Kesukaan kita juga berbeda. 
Aku  menatap langit  saat kau tersenyum-senyum mendengar suara mesin. 

Aku dapat memejam mata dan tetap dapat menikmati puisi yang dibaca, saat kau terkagum-kagum mendengar Soekarno berpidato dengan lima bahasa.  

Atau saat kau membicarakan politik, membahas sesuatu dari artikel KASKUS. Sesuatu yang jarang ada di history browserku karena kalah jumlah dengan web NASA dan tanggalan hujan meteor atau fenomena gerhana. 

Kau bisa membawaku ke gunung manapun yang biasa kau daki, kau tunjukan betapa tinggi kita bisa berdiri, tapi tetap aku akan mengadah, merasa jauh terlampau di bawah langit. 
  

Ya, kita memang begitu berbeda.

Tapi… tidakkah kau sadari juga?

Betapa menyenangkannya  melihatmu membaca buku. Kau menikmatinya sebagaimana aku menikmati bukuku.  Membaca ya, membaca. Kita berdua sama-sama tidak bisa membuat buku cemburu.

Lagupun begitu. Kau nikmati lagu sesukamu. Apa yang lebih kau dengarkan? Kata atau nada? Pernahkah kau juga menyimpan lagu lama, karena yakin tidak ada lagu yang kadaluarsa?

Atau saat kau bercerita! Aku bisa berlama-lama mendengarkanmu tanpa bosan, walaupun aku tidak begitu paham...  Aku senang berlama-lama melihatmu tersenyum sendiri, begitu semangatnya,  sampai-sampai aku bisa melihatnya dari mata.


Yap, kita begitu berbeda. Dikotak-kotakkan hitam dan putih  seperti individu lainnya. 

Aku dan kamu. 
Aku atau kamu.

Jadi… maukah kita bertemu saja di zona abu-abu?


24 April 2015
Selamat Ulangtahun!

1 Jan 2015

Menang Kalah Jatuh Juga

Hai,Langit.
Sudah lama sekali tidak bicara denganmu.
Bagaimana kabarmu? Semakin hari semakin muram,ya?

Hahaha. Maaf Langit. Bulan Desember ini sepertinya aku menang darimu.

Aku tidak kalah dengan hujanmu lagi.
Aku sudah bisa mengadah,
menghadapi rinaimu,
menantang awan abumu.

Aku sudah tahu dibaliknya masih ada yang biru. Masih ada yang cerah. Masih ada lapisanmu yang tenang, yang tak terpengaruh sama sekali dengan hujan.

Dan disanalah kini aku berdiri sebagai pemenang.

Sampai akhirnya aku sadar....

Langit sedang mengolok-olokku.

Hahaha. Sialan kau, Langit. Desember ternyata membawa orang lain masuk, lalu menarik-narik aku supaya jatuh . Apa kau yang menyuruhnya? Karena...ayolah. Hanya kau yang tahu aku pernah mengucap tak mau jatuh lagi. Dan kau pula yang paham bahwa aku ini sebenarnya


pembohong besar.


====

Pintu terketuk, lalu terbuka. 
Sosoknya kemudian duduk
mengisi kursi kosong di sudut meja
Ia berbicara, tertawa, bercerita
menyesap habis kopinya tanpa komentar
padahal sudah dingin dan ampasnya hilang
Lalu bertanya, "mau segelas lagi?"

2015

Desember kemarin payah sekali.

Tidak menghasilkan tulisan apa-apa. Bahkan akhirnya menyerah dengan cerbung karena...anjir, lama anet gak dilanjutin sampe lupa sendiri mau gimana.

Payah sekali.

Maunya beralibi laptop yang rusak dan betapa gak enaknya pake laptop adek ini. Tapi ya..... payah sekali.

Sudah tahun 2015.

Tahun ini harus jadi titik balik di akademis. Harus ada perubahan baik, atau kalau bisa perubahan besar. Tahun ini harus bertemu dengan The Great Perhaps. Harus ada hasil dari belajar 3 tahun di SMA. Atau atau, 12 tahun dari SD sampai SMA.

Mimpi. Terwujud. Tahun. Ini.

Saya sudah gagal dengan impian masuk Teknik Geologi. Saya sudah menyerah, atau juga mengalah. Gak tau deh bedanya apa. Tapi sebenernya melepas keinginan dari Teknik Geologi itu atit sekali. Masih rada gak rela. Masih suka mupeng kalau lihat jacketnya.

Ya ampun.
Gue masih pengen menggengam batu-batuan.

....

Tapi ya itu sudah berlalu. Sudah bisa dikontrol. Kepalanya sudah diarahkan untuk tidak terlalu naif. Jadi sekarang ceritanya sedang memantapkan diri untuk memilih dan jatuh cinta dengan Planologi atau PWK.

Bismillahirrahmanirrahim.

Tahun ini mau belajar bener-bener. Sampe kayang jumpalitan roll depan belakang tigersprong. Saya sudah nemu apa makna belajar. Saya sudah tahu apa yang menyenangkan dari Sains dan berusaha berdamai dengannya.

Iya, IPA, sekarang kita temenan. Ayo dong, jangan benci aku lagi, ya?

12 Nov 2014

Like an open book

   "You read me like an open book"
   "Tidak"
   "Ya, kamu membacaku. Lalu bertingkah seperti mengoreksi ejaan, menerka, mencoret, lalu lupa"
   "Aku tidak mengoreksimu. Aku cuma memastikan. Mengoreksi dan memastikan jelas-jelas hal yang berbeda"
   "Tapi kamu membacaku!"
   "Kamu tidak suka?"
   "Tidak. Tidak. Oh yaampun. Sudahlah. Berhenti menerka mataku!"
   "Hahahaha, kamu lucu sekali. Ayolah, kamu sendiri yang tidak mau diam. Lihat, kamu membolak-balik buku sedari tadi tanpa membacanya"
   "Aku melihat gambarnya"
   "Bukan. Kamu terlalu khawatir. Kepalamu berantakan. Jadi tanganmu tidak mau diam dan mencari sesuatu untuk menyibukkan diri"
   "Shut up"
   "Then tell me. I know there's something wrong with you"
   "Buat apa aku memberitahumu?"
   "Tidak tahu. Mungkin....untuk membuatmu lebih lega dengan menceritakannya denganku?"
   "Whoa. Kau pikir kau siapa? Psikiater?"
   "No, I'm your friend. You can tell me anything"
   "Kau membaca mataku lagi barusan"
   "Hahahaha. Kau benar. Aku memang membacamu seperti membaca buku dengan halaman yang terbuka. Kenapa? Karena kamu sendirilah yang membuka halaman pertamanya. Bagaimana aku tidak ingin tahu?"
   "Apa maksudmu?"
   "Ayolah... aku tahu kau menyimpan banyak sekali rahasia di kepalamu, sampai kamu sendiri kelelahan. Kamu yang tidak mau berbagi dengan sok berani menyimpannya sendiri, tapi kemudian tertatih-tatih mencari ulur tangan untuk berpegang"
   "Aku tidak seperti itu"
   "Yes you are. Kamu terlalu takut memulai untuk bercerita, untuk terbuka pada orang lain. Jadi kau hanya berputar-putar dipusaranmu sendiri, menunggu sampai ada orang lain yang menyelamatkanmu dari tenggelam"
    "So you think I am a coward?"
    "Yes. Kamu takut untuk bercerita tentang masa lalumu yang entah apa itu. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin.. kau takut masa lalu akan mempengaruhi masa kini dan depanmu?"
    "It does"
    "Kalau begitu ceritakanlah. Berbagilah. Tidak ada yang perlu kau takuti lagi bukan?"
    "Aku buruk di verbal"
    "Klise"
    "Sungguh. Aku seperti meracau. Kau tidak akan mengerti"
    "Setidaknya aku mendengarkan"



Malam itu ia lupa daratan. Kepalanya tumpah ruah berhamburan.  Tidak ada sofa yang menahannya. Tidak ada rak buku yang menyekatnya. Kata-kata mengambang, namun tidak melegakan karena gravitasi kembali menarik mereka. Kata-kata jatuh luruh membebani bahunya, menyerap melalui pori kepalanya, lubang telinganya, lubang hidungnya, memenuhi matanya.

Ia sadar tidak pernah lagi dapat bernapas lega.

Dan sepasang mata dihadapannya tidak akan pernah tahu.