10 Mei 2014

Memanggil

Langit,
Bisakah kau buka pintunya?
Aku lelah.

Langit,
Cepat raih aku di ambangmu
Aku jatuh.

Langit,
Jangan palingkan wajahmu
Kenapa kamu mengabu?

13 Apr 2014

[Cerpen] Terrible Things

This flash-fiction(? inspired from Terrible Things by Mayday Parade. Idk, i love this song. Go find it on youtube. And, yep. 'Damar' is still my fav name. Gak ada hubungannya dengan 'Damario' di MJB, btw.

***

Thank you,Dam. Lain kali kita jalan lagi ya!

Begitu pesan singkat dari Reena ketika aku baru saja tiba di rumah, memarkir motorku di garasi. Membacanya, membuatku tersenyum sendiri tanpa menyadari  ayah yang tiba-tiba sudah muncul di ambang pintu.
   “Habis jalan?”, tanya ayah.
   “Ya, dengan Reena”, jawabku, “yang kemarin lalu aku perkenalkan dengan Ayah itu”

Ayah tidak berkomentar lagi. Tapi dari sudut mataku, aku tahu ia masih memperhatikan gerak-gerikku. “Ada apa?”

   “Dia baik?”,
   “Reena?”, aku menatapnya heran, tidak mengerti dengan arah pembicaraan ayah, “tentu saja. Tidak perlu cemas ayah. Ada apa sih?”, aku terkekeh.

Ayah mengulas senyum kecil. Ia mengambil posisi duduk di kursi teras, “ambilkan ayah gitar di dalam,Dam”
Aku segera melangkah ke dalam, meraih gitar ayah di sudut ruangan dan kembali. “Sini duduk dulu”, pinta ayah lagi seraya menepuk-nepuk sandaran kursi di sampingnya.

Aku menurut, kemudian duduk, dan mendengarkan petikan gitar ayah.

***

“Jadi, Dam…”, ayah berhenti memainkan gitarnya, kini ia menatapku lekat, “jarang sekali ayah seperti ini. Tapi, yah, kau mau dengar ayah bercerita?”
Aku tertawa mendengarnya, mengira ayah bergurau. Ia ikut tertawa kecil, tapi matanya menunjukkan ia bersungguh-sungguh, “Oke. Damar dengar. Tentang apa ini?”, tukasku akhirnya.
   “Tentang ibu”, ayah tersenyum. 

Tentu ini akan jadi cerita menarik.

9 Apr 2014

Yep.


“Maybe there's something you're afraid to say, or someone you're afraid to love, or somewhere you're afraid to go. It's gonna hurt. It's gonna hurt because it matters.”

-John Green

17 Mar 2014

Kisah

Ia pinta seseorang bacakan cerita. 

Padahal sesuatu di dalam menggerogotinya
Menariknya.
Mendorongnya. 

Karena kebisingan justru menenangkan.
Teriakan.
Seruan.
Panggilan.

Seperti pelampung yang selalu membawanya ke atas. 
Ke udara,
Ke biru,
Kesadaran.

Ia pinta seseorang bacakan cerita,
Ia harap seseorang menyelamatkannya. 



12 Mar 2014

[FF2in1] Let It Go

Tepuk tangan berhenti. Semua mata kini memandangku. Menunggu.

Tapi aku membeku. 

***

"Aku tidak bisa, Ren", tukasku sambil mondar mandir. Aku tidak bisa membuat kakiku diam. 
"Naya, kamu sudah pernah melakukannya. Ini pasti mu--"
"Tapi tidak di depan banyak orang seperti itu!", pekikku, menunjuk kerumunan orang di balik tirai.
Rendi terdiam sejenak. Menyadari kekacauanku. Ia meraih bahuku, menghadapkan wajahku padanya.
"Lihat aku. Kamu bisa Naya", katanya tegas, ia masih menatapku di mata, "Tersenyum. Bacakan. Munculkan"
"Tapi Ren....."
"Lakukan ini untukku. Bagaimana?"

***

Lampu sorot mengarah padaku. Aku harap cahayanya terlalu terang hingga membuat aku pingsan. Tapi ternyata tidak. Aku masih berdiri di tengah-tengah panggung, tidak berani menyentuh stand mic di hadapanku. Kasak-kusuk penonton semakin membuatku panik.

Aku baru saja hendak berlari masuk ke dalam lagi. Hilang dari orang-orang ini. Tapi tiba-tiba aku melihat sosok Rendi di kursi penonton. Jempolnya teracung keatas diantara kepala. 

Ia tersenyum.

Ya.
Aku tidak bisa mundur. Rendi benar. Aku bisa.

Aku mengambil langkah menuju stand mic. Kakiku bergetar hebat ketika aku melangkah. Pun tanganku ketika meraih kertas dari sakuku.

Tidak.
Aku tidak takut apapun. Aku tidak takut semua pandangan dingin orang-orang ini. Aku bisa membacakan puisi Rendi dihadapan mereka. 

Tersenyumlah, Naya. Baca dan rasakan puisinya. 

Let it go.