4 Jun 2013

Detak

Permukaan kopi berdetak
Tanda kamu mendekat ?
Atau tanda ia siap jadi ledak ?

Permukaan kopiku berdetak
Kamu lihat ?
Berarti penantian ini bisa aku sebut layak

Permukaan kopiku berdetak
Semoga lebih cepat
Karena senja hendak tutup diri
Malu melihat aku terbodohi

8 Mei 2013

[Cerpen] Untuk Kamu


Sedang berusaha untuk menciptakan tokoh cowok yang gak menye-menye. Dan..........gagal :( huhuhu

***

Dia masih berdiri di depan, dengan secarik kertas di tangan yang ia genggam kuat-kuat. Aku tidak bisa menebak ia terlalu bersemangat atau terlalu takut. Wajahnya tampak datar saja. Sesekali mengulum senyum ketika teman-teman menyorakinya.

   “Dia mau apa ?”, Tio menyikutku.
   “Entah. Membacakan sesuatu ?”, aku hanya menggidik bahu.

Tentu saja aku berbohong. Aku tahu apa yang akan dia lakukan. Aku tahu bakat apa yang akan ia tampilkan di Minggu Bakat pelajaran Seni Budaya ini. Ia sudah menyiapkannya dari jauh-jauh hari. Bahkan mungkin ketika pertama kali Pak Damar memberitahukan seisi kelas tentang project ini.

Aku sering melihatnya berdiam diri di kelas ketika istirahat. Kemudian mulai mencorat-coret sesuatu di buku birunya. Tersenyum, merengut, kemudian tampak begitu bersemangat. Bagaimana aku tidak penasaran?

Awalnya memang tidak. Tapi pada suatu kesempatan, aku tak sengaja melihat isi buku birunya. Isinya berantakan. Garis garis pulpen hitam dan merah memenuhi halaman.

Dan huruf-huruf yang terangkai jadi bait-bait.

Aku tidak berani melihat lebih lama apalagi membacanya. Entahlah. Aku rasa buku itu bersifat pribadi. Tapi semakin lama aku semakin yakin. Aku semakin sering memperhatikan raut wajahnya ketika menulis, sembari menerka kata-kata apa yang sedang ia rangkai. Apa ia buat sedih, buat senang, atau buat yang penuh amarah.

Dan aku tidak pernah berhasil membaca wajahnya.

Sama seperti sekarang. Dia masih berdiri dengan wajah yang tidak terbaca ekspresinya. Anak-anak di kelas sudah tidak lagi memperhatikannya. Mungkin hanya aku dan Pak Damar yang masih berusaha menyimak bisunya.

   “Ehm, baik Luna. Apa yang ingin kamu tunjukan kepada teman-teman?”, Pak Damar angkat bicara, “Apa kamu hendak membacakan sesuatu ?”

Kelas diam. Kembali memperhatikan dia di depan.  Tapi masih bisu saja yang terdengar. Hingga akhirnya, Pak Damar menyerah, “Baiklah.. mungkin kita lihat tampilan dari teman-teman yang lain dulu. Luna bisa duduk kembali...Selanjutnya ?”
***

Bangku Luna kosong. Tidak ada buku biru di kolong mejanya seperti biasa. Harusnya aku tidak perlu memikirkannya.  Tapi toh pada akhirnya aku coba keluar kelas mencari Luna.

Tak sulit. Luna ternyata ada di bangku dekat lapangan. Sedang melihat ke keramaian dengan Oreonya. Aku sadar aku semakin aneh ketika berpikir harus duduk disampingnya, kemudian mengajaknya bicara. Untunglah aku tidak sempat melakukan hal bodoh tersebut karena bel telah berbunyi lagi.

Untunglah ? Aku rasa tidak juga.
***

Begitulah hari selanjutnya. Aku semakin jarang melihat Luna di kelas. Mungkin hanya beberapa menit, mengeluarkan buku birunya, kemudian menutupnya kembali dan keluar kelas. Tentu saja duduk di bangku yang sama dengan makanan yang sama.

Hingga akhirnya aku tidak tahan lagi. Sudah kukumpulkan niat untuk melangkah menghampiri Luna, tapi kemudian merasa bodoh. Apa yang harus aku katakan? Tiba-tiba mengajaknya bicara tanpa alasan ? Jika kemudian Luna tidak merespon apapun, aku akan benar-benar tampak seperti orang bodoh yang sedang berusaha menarik perhatian.

Tapi siapa sangka. Kaki ini dapat melangkah sendiri.

   “Hei, sendiri aja ?”, kata-kata itu meluncur bebas. Aku menatapnya ragu, dan kemudian mendapat Luna yang terkejut. Hebat. Aku hampir membuat orang lain jantungan hanya dengan membuka percakapan.
   “Umh, Ya. Ada apa Raka ?”, Luna bicara seperti melirih, kemudian melanjutkan dengan polosnya, “Apa sudah bel masuk ?”
   “Ah ? Tidak tidak.. Maksudku belum bel. Santai saja…”, padahal justru aku yang tidak bisa santai, “kenapa tidak di dalam kelas?”

Luna tidak menjawab.  Ia hanya tersenyum. Persis ketika ia berada di depan kelas dan disoraki. Aku mulai bersiap mengutuki diri sendiri karena telah berpikir melakukan hal yang konyol , tapi kemudian Luna memandangku dan bicara,

   “Minggu ini kamu belum kebagian maju untuk tampil Minggu Bakat ?”, tanyanya.
   “Belum. Mungkin minggu depan. Nomer urutku cukup jauh”, aku diam sejenak menarik napas, “ dan, kenapa Luna tidak jadi maju minggu ini?”

Kini Luna tampak lebih tegang. Ia mengalihkan pandangan menuju sepatunya. Mungkin aku salah bicara. Ah yaampun. Bodoh bodoh bodoh.

    “Aku belum siap. Yang ingin aku tunjukan sebenarnya belum jadi….”, Luna melirih lagi.

Bohong. Luna berbohong.

   “Belum jadi ? Memang sudah sejauh mana puisimu ?”
   “Dari mana kamu tahu aku akan membacakan puisi ?”

Skak mat. Lihat aku Si Bodoh  Bermulut Besar.

   “Umh.. yah, hanya menebak”, kini aku yang gelisah, “apa memang benar kau akan membacakan puisi ?”.
Luna bungkam lagi. Ia menatapku sekilas, kemudian membuang muka sambil mendesah, “Bagaimana jika aku maju lagi, kamu tak perlu memperhatikanku seperti yang lain saja ?”
   “Apa ? Maksudm—“
   “Jangan lihat aku”, ia berhenti sejenak dan berdiri, “Apa kau pikir mudah membacakan puisi tentang kamu jika kamu terlalu memperhatikanku seperti itu ?”

Ia berlalu dengan wajah merah.

Aku beku dan berusaha mengurai artinya.

7 Mei 2013

Senang

Aku tidak jadi mundur. Tapi tidak juga akan bergerak maju. Diam saja. Menikmati semuanya yang sekarang aku punya.

Aku tidak mundur kemudian menjauhi. Jadi naif kembali dan berpura-pura tak pernah ada apa-apa.
Tapi tidak juga akan maju kemudian mengatakan. Cukup diam dan biar tak ada tanda tanya yang diberikan.

Jadi, tolong mengertilah.
Tetaplah berada ditempatmu dan jangan hindari aku. 
Aku janji tidak akan ganggumu lagi. 
Aku diam.

Karena aku senang jadi bayang :)


19 Apr 2013

[Cerpen] Bersama Ibu

Well, actually this is the task for Mrs. Nena. Phew, I did it ; made a shortstory without galao. Need to try it again....... 


***

Rama memeluk Lika dalam bisu. Sudah ia kunci pintu dan berusaha tidak mendengarkan apapun. Ia ingin kamar ini kedap suara untuk malam ini saja. Apapun, agar teriakan-teriakan di luar tidak menembus atmosfernya. Lika sendiri menahan tangis dengan bahu bergetar. Ia sudah berusaha mati-matian agar menelan air matanya sendiri, “Jangan nangis, cengeng !”, bentak Rama tiap kali Lika menangis. Padahal Lika sendiri tahu Rama berkali-kali menyeka pipinya sendiri dengan kasar. Makanya Rama hanya memeluknya dalam agar tidak perlu melihat wajahnya sendiri.

   “Ibu kenapa menangis?”, tanya Lika tertahan
   “Diam. Ibu tidak menangis karena ayah”.
   “Aku tidak bilang ibu menangis karena ayah”
   “Siapa peduli. Diam, Lika. Tidak perlu mendengarkan mereka”

Tapi bagaimanapun keduanya berusaha menutup telinga, percuma saja. Malam itu terlalu hingar bingar dalam sepi yang paling dalam.
***
“Kita pindah ke luar kota besok pagi. Bawa pakaian seperlunya saja dulu”, kata ibu singkat ketika Lika sedang asik di kamarnya. Ia terperangah seketika. Pindah ? Lika baru saja buka mulut untuk protes, tapi ibu sudah hilang di balik pintu.

Lika masih heran dengan ketidak hadiran ayah dan Rama pagi ini, kini sudah ditambah dengan keputusan tiba-tiba tentang kepindahan.  Bukan berarti merasa senang, tapi Lika diam-diam merasa bersyukur karena ayah tidak ada di rumah. Tidak ada ayah, malam itu tidak akan terjadi lagi setidaknya untuk malam ini.
Dalam lamunannya, tiba-tiba telpon genggamnya bergetar. Rama menelpon,

   “Lika, kamu gak apa-apa ? Sekarang dimana ? Masih di rumah ?”, cecar Rama ketika telpon diangkat.
   “Ah ? Gak apa-apa.. Iya..”, Lika jawab seperti bisik. Tanda tanya masih memenuhi rongganya.
  “Maaf tadi pagi kakak dan ayah tidak pamit”, ada jeda kosong sebelumnya, “Hanya tidak ingin mengganggu tidur Lika”.
   “Kalian kemana ? Pulang nanti sore, kah ? Cepat pulang, kak. Ibu agak bersikap aneh hari ini..”
Sepi. Rama mengambil jeda yang lebih panjang hingga akhirnya menghela napas sendiri, “Lika baik-baik ya. Kakak pulang ke rumah secepatnya nanti.. Tung—“
   “Kata ibu besok pagi kita pindah ke luar kota. Kakak dimana ? Kakak bersama ayah ?”, Lika mulai merasa sesuatu yang tidak beres. Semua orang bersikap aneh hari ini dan Lika merasa paling bodoh karena masih belum mengerti apa yang terjadi.
   “Iya, kakak bersama ayah”, Rama berusaha menutupi gemetar suaranya, “Baik-baik sama ibu ya, Lika..”

Telepon diputus. Ibu berdiri di ambang pintu dengan wajah murung. Lika gelagapan, ia buru buru menyelipkan telpon genggamnya. Entah kenapa ia begitu merasa takut sekarang.

   “Lika bersama ibu”, kata ibu dengan datar. “Rama bersama Ayah. Itu keputusannya”
   “Kita pindah tanpa mereka?”, Lika bertanya hati-hati. Ibu tidak buka mulut, tapi matanya bicara dan menandakan iya. “Apa kita tidak akan bersama mereka lagi, bu ?”

Wajah ibu makin murung. Ada kantung mata dan kerut di wajahnya, “Lika bersama ibu”. Tak ada kata lagi, ibu pergi begitu saja meninggalkan Lika yang tenggelam dalam pikirannya.

Lika mengerti. Pagi ini adalah hasil dari kemarin malam. Semua hingar-bingar itu adalah jawaban untuk tanda tanya pagi ini. Lika bersama ibu. Lika bersama ibu. Kata itu terngiang bersamaan dengan kenyataan bahwa rumah, tidak akan seperti dulu.

Ketika ibu sudah dirasa benar-benar hilang, Lika kembali merogoh telpon genggamnya, kemudian kalap mencari nomer Rama. Namun nomer tersebut tidak bisa dihubungi. Lika coba terus menerus menembus Rama, tapi tak kunjung masuk. “Ayolah kak…”, gumamnya sendiri semakin frustasi.

   “Ibu sudah bilang, Lika”, ibu tetiba muncul lagi di ambang pintunya, rahangnya mengeras. “Lika bersama ibu. Apa itu tidak cukup ? Apa Lika mau ibu tinggal juga?”
Lika bungkam seribu bahasa. Ia tercekik dengan kata-kata ibu yang telak meremukkannya. Ibu tampak tidak bercanda. Matanya kosong, namun membara. Siapapun yang ada didalamnya, benar-benar bukan ibu yang lama.
   “Tidak bu..”, suara Lika parau. Ia sudah hendak menangis lagi. Rama mana Rama..
   “Tolong Lika..”, suara ibu bergetar, “Ibu tidak punya siapa-siapa selain kamu”
Lika tidak sempat mengatakan apa-apa, karena ibu langsung pergi lagi dari pintunya. Lika tenggelam lagi, menelan sendiri air matanya tanpa ada bentakan Rama seperti biasa.

***

   “Lika ingin mengabari kakak dan Ayah”, kata Lika di pagi ketika mereka sedang sibuk berkemas, takut takut.
Ibu tidak menjawab. Hanya melirik sekilas pada Lika dengan mata bicara ; tidak.
   “Kalau begitu beri tahu Lika sekarang mereka dimana”, Lika sadar ia mengatakannya terlalu tegas. Terlihat rahang ibu mengeras tanda tak suka.
   “Lika bersama ibu”, katanya ketus, “Tolong Lika. Ibu mohon turuti ibu”.
   “Turuti apa ? Untuk meninggalkan ayah dan kakak ?”, Lika tidak tahan lagi. Tanda tanyanya meledak.
Ibu tidak menoleh, masih tampak tidak senang. “Turuti ibu untuk tetap bersama ibu. Mengerti ?”
   “Apa ibu takut kehilangan aku, atau ibu takut sendiri ?”, Lika tidak dapat menahan diri, “Apa ibu tidak takut kehilangan kakak juga ?”
   “Ibu yang tidak ingin kamu sendiri, Lika”, ibu mulai menangis. Pipinya basah tapi terus menyibukkan diri dengan barang-barangnya, “Ibu ingin kamu tetap bersama ibu”

Lika ingin kembali bicara, tapi tiba-tiba ibu begitu saja memeluknya dalam-dalam dengan  bahu bergetar. Lika bisa mendengar bisikan ibu, “Tolong Lika.. Tolong..”

Lika hanya tidak mengerti. Ia terlalu lugu untuk dapat mengurai semua artinya. Yang ia tahu, kepindahan ini bukan hanya semata pindah, tapi juga meninggalkan jutaan kenangan dalam tiap ubinnya. Dinding rumah akan berhenti bercerita karena hanya ada kekosongan setelahnya. Apapun yang terjadi disini, akan melumut bersama debu. Mungkin tidak akan jadi apa-apa ketika semua sudah kembali sedia kala. Hanya gema-gema malam itu dari celah tembok retak. Kemudian mengingatkan betapa rumah ini dulunya rusak karena teriak.
Ibu masih memeluknya. Ibu yang tadi mengeras kini merapuh.

Lika tidak ingin meninggalkan ibu. Lika menurut ; hanya akan bersama ibu.

17 Apr 2013

Salah Kamu

Seharusnya kamu buat tanda
Agar aku tidak perlu singgah
Atau setidaknya tak perlu berlama-lama
Duduk dalam hatimu, menunggu kamu temukan aku.

Aku melumut dalam debu.
Kemudian tenggelam sendiri dalam doa-doa yang kini beku
Kelelahan. 
Jutaaan harapan, kini jadi ratapan

Aku mati suri dalam hatimu sendiri.
Salah siapa ?
Kamu, siapa lagi.