28 Mar 2013

Terkadang.

Karena terkadang, percakapan sederhana kita selalu aku simpan diam-diam. Dan beberapa kalimatmu begitu memenjarakan dan membungkam.
Karena terkadang, aku kalah kata atas bahagia yang kamu ciptakan. Kemudian menenggelamkan aku tanpa tahu mana dasar.
Yah, sampai sekarangpun..aku tidak juga dapat bicara atau menemukan dasar.
Diam. Dan melihatmu tersenyum di permukaan.

24 Mar 2013

[Cerpen] On The Phone

Nazma masih duduk diam menatap sepatunya. Ia seperti beku begitu saja dengan berbagai tertawaan dari luar atmosfernya, dari Fahmi. Dan Fahmi tampak seperti biasa, ramah dengan siapa saja dan begitu ringan. Ia menyapa, tersenyum, dan sesekali terkekeh bersama teman-temannya. Bukan tidak menyadari kehadiran Nazma. Ia tahu betul Nazma belum bicara apa-apa dari ketika ia datang, tapi entah kata apa yang pantas untuk menyapa Nazma lagi. Sesekali ia melirik, mengharap Nazma setidaknya mengadah kepala dan mata mereka tak sengaja saling bertemu. 

Tapi hingga ia harus pergi, ia tidak juga menangkap mata Nazma.

***


   "Gak pegel, nunduk aja ?", tanya Rafa sembari menepuk bahu Nazma. Nazma menoleh kaget, dan kemudian menyimpul senyum. Rafa dengan mudah mengurai artinya. Ia mengambil duduk di depan Nazma dan terkekeh, "Gak boleh jadi sombong gitu, Ma.. ". 
   "Sombong kenapa ?"
   "Jarang-jarang bisa kumpul, disapa dong. Masa diem aja... "
   "Sapa bagaimana ? Sapaku pasti terdengar kosong", Nazma menghela panjang.
Rafa menarik bibirnya kecil disudut. Ia tahu Nazma pasti menyangkal apapun kata-katanya. 
   "Apa setelah malam itu kamu menghentikan semuanya ? Gak ada komunikasi apapun lagi ?", tanya Rafa lagi.
   "Tadinya iya..", Nazma menghela napas panjang. "Tapi sekarang dia udah punya cewek", suara tadi Nazma yakini suara tercekik yang paling bisik.

Ada hening sejenak. Rafa membiarkan Nazma mengambil napasnya lagi dan kembali menapak bumi. Mungkin samar, tapi ia tahu ada yang rubuh di dalam Nazma ketika mengatakannya. 
   "Walaupun Fahmi gak bilang apa-apa ke gue, gue tau Fahmi sebenernya pengen bersikap biasa aja ke lo, Ma", Rafa mendesah, "Gak ada masalah dengan berteman baik. Lo selesai dengan Fahmi juga secara baik-baik,kan? Bersikaplah dewasa, Ma. Inget, sebelum itu lo juga sahabat baik dia dari dulu".

Nazma bungkam kehabisan kata. Rafa ada benarnya juga. Tapi tetap saja, tidak ada kata-kata yang mau keluar lagi pada Fahmi. Padahal tidak ada sakit hati atau benci. Hanya saja... Ah. Nazma meremuk acap kali hendak bicara

Tapi yah, Rafa tidak salah. Tidak bisa ia terus seperti ini. Fahmi juga sahabatnya. Mungkin mereka bisa kembali seperti masa lama. 

***

Handphonenya hanya ia pegangi sedari tadi. Nazma memandang kontak Fahmi dengan tatapan kosong. Namun pada akhirnya, jemari itu bergerak juga.

.... 

  "Halo ? Emh, kenapa Nazma?"

Fahmi menyebut namanya. Nazma kemudian menciut dan meledak jadi bagian terkecil. Ia hendak berkata tapi kelu. 

   "Halo ? Nazma?"

Dua kali. Fahmi menyebut namanya lagi. Semua dialog yang disusun buyar seketika. Tapi tidak kali ini. Kata-kata itu tidak boleh bunuh diri lagi !

 "Erh.. Fahmi ? Iya ini Nazma..", Nazma diam sejenak, "Hai."

Bodoh. Bodoh. Bodoh.

Fahmi juga mengambil jeda lebih panjang, kemudian menjawab sapaannya. Baru saja Nazma hendak berkata lainnya, seseorang memanggil Fahmi dengan samar. Fahmi menyahut, kemudian kembali pada Nazma,

   "Sorry, Ma. Mungkin lain kali ya. Gue lagi.., umh. Nanti gue telpon lagi"


Nazma tahu Fahmi sedang apa. Nazma mengerti. Ia hanya mengiyakan dengan singkat, ingin segera mengakhiri telponnya, 

"Maaf gue ganggu,Mi". 

Kemudian ia putus sendiri telponnya.

Nazma diam mematung lagi. Dalam hati ia mengutuki perbuatan bodohnya dan perkataan Rafa tadi siang. Dalam hati Nazma rubuh dan melebam. Ia sadar ternyata ia hanya sedang melempar bumerang yang kembali menghantamnya telak.

Keadaan mempecundanginya. Masih saja ia kalah.

'Cause I still don't know how to act
Don't know what to say.

Still wear the scars like it was yesterday.
But you're long gone and moved on...


-Long Gone and Moved On, The Script

7 Mar 2013

Bayang Diam-Diam

Diam-diam. 

Itu yang selalu Faya lakukan. Diam-diam dalam diam, diam-diam memperhatikan. Terus seperti itu setiap harinya di sekolah. Ia akan mencemaskan bangku kedua di baris pojok yang kosong ketika bel telah berbunyi, kemudian menghela napas sendiri ketika pintu terbuka dengan kasar dan sosok yang di nantinya muncul dengan beberapa peluh di dahi.

Sosok yang utama yang menjadikannya bayang. Dengan rambut hitam legam yang selalu berantakan karena belum di sisir tiap pagi, kemeja yang kusut karena berdesak-desakan di bus ketika berangkat sekolah, dan tas kumal yang sepertinya tidak pernah membawa apa-apa. Entahlah. Sosok yang menjadikan Faya hanya bayang itu benar-benar menghabisi dunianya.

Faya tidak pernah banyak bicara pada 'tuannya'. Hanya kata seperlunya, dan senyum canggung tiap tak sengaja tertangkap matanya. Faya terlalu menikmati perannya sebagai bayang. 

Hanya diam.
Sebagai bayang dalam diam.

Apa Faya bosan ? Memang melelahkan terkadang. Siapa yang tidak lelah mengikuti terus-terusan ? Apalagi sambil diam-diam. Tapi..kadang juga menyenangkan.

Menyenangkan rasanya dapat memperhatikan sosoknya yang terkantuk-kantuk saat pelajaran.
Atau ketika ia sedang terlalu semangat, kemudian banyak bertanya hingga guru yang justru bosan. 
Sekedar bisa mengintip buku catatan yang ia gambarpun rasanya membanggakan.

Ah, Faya tahu semua ia bodoh. Jadi bayang diam yang salalu diam-diam.

Faya juga sakit diam-diam. Bagaimana tidak ? Sosok yang diperhatikan terkadang sedang memperhatikan bangku lain, ke arah lain. 

Namun seperti yang sudah dikatakan berulang-ulang. Faya bayang diam yang diam-diam.
Ia juga meringis dalam diam. Dan senyumnya tetap membayang. :)

3 Mar 2013

Topeng Dua Sisi

Aku tidak tahu kenapa aku bisa semuka dua ini. Setiap hari, rasanya semakin mudah mengganti topeng. Membolak-balik sisinya tiap kesempatan. Ini itu. Aku tinggal pilih saja. Topengnya dua sisi ini sudah hampir koyak karena sering digunakan. Khususnya saat bersama kamu.

Ya, lagi lagi kamu.

Sisi yang ini akan aku biarkan seharian. Biar saja. Aku senang dapat membuatmu senang. Itu hukumnya dan rasanya aku dibatasi dalam pilihan. Sisi ini akan selalu terpapang dan masa bodoh dengan nama-nama yang selalu kamu sebutkan. Sisi ini akan melengkungkan bibirnya. Sesekali bahkan tertawa kecil. Yang palsu yang nyata, tak akan ada bedanya. Aku senang dapat membuatmu senang. Itu hukumnya dan aku tahu itu sudah cukup.

Sisi satunya lagi ? Akan hanya ada ketika mengabu. Ketika aku duduk di salah satu dari dua bangku dengan kopi yang dingin. Aku akan setia disana menghadap pintu. 

Menunggu dengan bisu ? Tidak. Aku sedang menyimak langkah sepatumu yang semakin samar menyemu. Kamu berjalan memunggungi aku dan kopi dinginmu.

Jadi apa yang aku tunggu ?

Aku harap, tiba tiba kamu berbalik arah kemudian berlari ke arahku secara tiba-tiba sebelum aku menyadari langkahnya. Kau dobrak pintu bodoh itu dan mengambil duduk di kursi hadapanku. 

Meraih topengku yang koyak.
Melipatnya menjadi origami.
Dan tersenyum,
 "Aku sudah melihat kamu sekarang. Kamu bukan topeng berbayang"

Kemudian kita menikmati kopi yang dingin ini. 

12 Feb 2013

[Cerpen] The Secret Doors

Tell me what you want to hear
Something that will light those years
I'm sick of all this insincire
So I'm gonna give
All my secrets away
-One Republic
***

“Bagaimana dengan janji ?”, Reza menatapnya, “apakah tidak ingin kamu tepati ?”

Ana bungkam. Bukan tidak bisa bicara, ia hanya tidak bisa menemukan kata yang ingin digunakan. Maka ia hanya balik memandang Reza dengan datar, hingga akhirnya Reza memaling muka dan mendesah, “Berhentilah berlari. Kau perlu diam sejenak dan berkaca ”, katanya sembari bangkit, “biar kamu ingat sebenarnya kamu itu siapa”

Dan disitulah Ana. Duduk termangu sendiri dengan pikirannya. Percakapan dengan Reza memang tidak begitu panjang, namun melelahkan. Semua kata Reza benar. Semua kata Reza benar. Ana tahu itu. Hanya saja….

                ***

Waktu sudah jauh berlari, namun seperti cerita-cerita, selalu ada puncaknya. Sekarang puncaknya. Semua yang nyata ternyata selama ini tidak pergi kemana-mana, selalu berada di balik pintu. Dan sekaranglah, Ana baru saja membuka pintu tersebut.

Hujan. Hujan. Hujan.

Tidak heran. Sekarang memang musim hujan. Selalu mendung dan berangin. Rinai hujan tidak selalu jadi rinai. Kadang ia bergemuruh, kadang ia terus –terusan mengeluh. Namanya juga hujan.

Hujan. Hujan. Hujan.

Di dalam hujan lah pintu Ana terbuka. Kemudian semua yang nyata itu menghantamnya bertubi-tubi. Membuat Ana yang lemah semakin lemah..

***

“Jadi kamu seriusan enggak tahu, Na ?”, Fala menatap heran mata dihadapannya, “Jadi.. Jadi kamu gak tau apa-apa soal perihal itu ?”.

Ana menghantam punggungnya pada sandaran kursi. Tubuhnya melemas dan sesuatu rubuh didalam. Berdebam dan langsung melebam. Jadi.. Agi selama ini tidak pernah menyadari yang sebenarnya terjadi? Jadi selama ini hanya ada aku dan kamu. Bukan kita ?

***

“Dasar cewek bego !”, pekikan itu menggema. Jika saja tatapan memang bisa membunuh, harusnya Ana sudah terkapar berdarah-darah dengan tatapan Meda. “Gue pikir kalian emang pacaran betulan, Na !”, tukas Meda lagi. Keringat berderai dari pelipisnya. Dahinya berkali-kali mengernyit. Heran.
                “Dekat kan, bukan berarti pacaran..”, Ana mencoba menahan air matanya. Tapi segala perasaan dan sesuatu yang seperti tersangkut di tenggorokkannya membuat Ana tercekik
                “Tiga tahun, Na ! Tiga tahun lo cerita hal-hal bodoh itu di depan dia. TIGA TAHUN LO GAK NYADAR APA-APA !”, Meda tersulut emosinya. Napasnya memburu. Begitu herannya dengan gadis ini. Dia ini polos atau emang beneran bego sih ?

Ana membeku. Ia merasa seperti menyusut, menyusut, kemudian pecah jadi bagian terkecil. Sungguh, semua ini di luar perkiraannya. Semua ini salah. Harusnya Ana tahu itu.

Meda yang akhirnya tersadar, ini bukan salah siapa-siapa. Ini hanya kesalahan waktu. Waktu yang egois yang tidak pernah berhenti sejenak sekedar membiarkan orang-orang yang terseret olehnya saling menoleh. Ini bukan salah siapa-siapa. Tidak ada yang perlu disalahkan.

Kemudian Meda mendesah sendiri. Dahinya masih terlipat. Matanya terpejam berulang-ulang. Ia benar-benar baru menyadarinya. Semua yang nyata, ternyata selama ini memang tidak pernah kemana-mana…
               
              “Lo tahu dia baik, gue harap lo juga harusnya mengerti bagaimana perasaan dia. Lo gak bisa pura-pura tutup telinga dan terus berkoar-koar, Na. Lo harus lurusin semuanya. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Lo tahu itu”, kata Meda akhirnya. Ia melirih, “Jangan terus berkaca pada cermin buram tanpa tahu bayangan lo sendiri itu sebenarnya apa, Na..”

***

                “Kata siapa, Na ?”, Reza menyeringai geli. Ia coba mencari mata Ana yang kini justu malah salah tingkah. “Kata siapa kalo sebenernya  gue suka sama lo ?”.
Ana masih menunduk. Merasa aneh sekaligus canggung. Jadi seperti biasa, Ana hanya bungkam dan terus menatap sepatunya.
                “Lihat Reza, Na”, tukas Reza lagi sembari menyentuh bahunya. Ana menoleh cepat dan langsung terperangkap dalam dalam.“Apa muka Reza cukup ganteng buat suka sama kamu ? Hahaha..”

Reza terkekeh tanpa meyadari raut Ana yang berubah. Ia tercekik sendiri lagi. Benar-benar tidak bisa mencerna kata-kata Reza. Jadi sebenarnya bagimana ?
                “Za, tolong.. Ana bingung..”, lirihnya parau. “Ana gak ngerti sebenernya gimana..”
Kemudian sekarang Reza yang diam. Ia tatap lekat-lekat sosok dihadapannya.  “Kenapa masih bertanya?”, Reza menyungging senyum.
                “Karena Ana masih belum mengerti. Kata Meda begitu. Semua orang bilang begitu..”
                “Kata Meda ? Kamu percaya sama Si Meda ?”, Reza tertawa kecil, “Orang kayak gitu dipercaya kamu, mah..”

Ana balik menatapnya lama. Mencoba mencari sendiri jawabannya di dalam mata Reza. Tapi Reza memanglah Reza. Gelap matanya terlalu pekat. Tak pernah terbaca.
                “Ana kan sudah sama Agi..”, goda Reza sembari menyikut Ana/
                “Agi enggak suka Ana. Agi tetap belum sadar tentang Ana. Sepertinya,he falling in love with someone elsa, Za..”
                “Then try it again. Tapi sekarang, just be yourself, Na. Jangan seperti tahun-tahun kemarin. Jangan berubah cuma buat seorang Agi…”, Reza menepuk kepala Ana dengan ringan. Kemudian tertawa, “Gue sebel banget pas waktu itu. Rasanya, itu bukan Ana yang gue kenal, tau !”.

Mau tidak mau Ana ikut tersenyum. Ia juga menyadari betapa bodohnya dia waktu itu. Semua perubahan yang ia lakukan mati matian hanya untuk Agi ternyata hasilnya nol besar. Semua perubahan yang ia lakukan justru malah balik meremukan.
                “Maaf ya, Za..”, bisik Ana. Rasa malu mengkerdilkannya. Tapi Reza memanglah Reza. Ia hanya tersenyum kecil dan mengangguk.
                “Dan oh ya, Na..”, lanjut Reza, “Gak usah dengerin Meda dan orang lain. Ana itu sahabat gue dari dulu. Gak mungkin gue jadiin pacar, kan ?”, canda Reza disusul dengan derai tawanya.
“Dan satu lagi, Na”, Reza menatap Ana dengan serius, “Gue juga gak mau saingan sama si Agi. Gak level !”.

Ana hanya tersenyum. Ia tahu sekarang. Ia mengerti. Reza benar. Reza memang selalu benar. Semua oranglah yang salah. Reza, tetap yang bisa ia percaya.

***

Mungkin pintu Ana memang sudah terbuka. Semua yang nyata disana sudah berhamburan keluar. Hanya satu lagi. Satu pintu lagi dengan satu yang nyata. Pintu Reza. Dengan Reza sendiri di baliknya.

***
Guess it :)