8 Okt 2013

Satu Hari Banyak Tapi

Aku melihatmu pagi tadi. Wajahmu merengut. Tas ranselmu tampak berat, dan tanganmu kerepotan membawa buku. Jika saja aku tidak pengecut, aku akan berlari menuruni tangga dan menawarkan bantuan untuk membawakannya ke kelasmu.

Tapi aku bisu.

Aku melihatmu lagi saat jam pelajaran. Kamu melintasi bingkai jendela kelas sambil terburu-buru, sendirian. Jika saja tidak ada guru, aku akan menghambur dari kelas dan menemanimu, kemanapun kamu hendak pergi. 

Tapi aku terpaku.

Aku melihatmu lagi saat jam istirahat. Kamu berjalan menuju kantin bersama teman-temanmu, sambil tertawa. Aku senang bisa melihat tawamu. Matamu menyipit, tampak lucu. Jika saja aku ada di dekatmu, aku akan beritahu semua lelucon hanya agar kau tertawa.

Tapi aku jauh.

Aku melihatmu lagi saat pulang sekolah. Kamu keluar dari kelasmu, berjalan di koridor dengan wajah sumringah. 

Tas beratmu bukan lagi masalah.
Buku-bukumu perpindah tangan
Kamu melangkah beriringan,
dengan seseorang disamping bahu.
Yang terlalu dekat jaraknya hingga ia pasti bisa dengar tawamu

Jika saja aku bukan hanya pengagummu. Aku pasti sudah cemburu. 

Tapi aku tidak mampu.

3 Okt 2013

Pijak

Aku tidak tahu jika kamu begitu bodoh.
Untuk berpijak pada tanah saja kau tak bisa.

Payah.

Bagaimana kamu berani janji menunjukiku rasi,
jika tentukan mana pijakan saja tak mampu?

Berdirilah saja dulu!
Belajarlah bagaimana cara menggunakan kedua kakimu!


27 Sep 2013

[Cerpen] Iya

   "Ayolah. Jangan jadi penakut seperti itu!"
   "Mudah saja bagimu bicara, Mira!"

Entah berapa lama aku dan kamu terus berdebat dan saling mendorong. Wajahmu merah, tapi berkeringat. Dahimu berkerut, namun rahangmu mengeras. Aku ingin tertawa melihat betapa kalapnya kamu. Kamu harus tahu bagaimana lucunya wajah itu.

   "Kamu cuma menghadapi perempuan, Tio!", kataku lagi sambil terus coba membuatmu menggerakkan kaki.
   "Berbeda jika perempuan itu Rere!", kamu memberontak seperti anak kecil. Lalu kembali mencari posisi duduk, dan memakukan diri sendiri pada kursi. "Kamu tidak mengerti,Ra", pungkasmu.

Aku berhenti menarik pergelanganmu,terhenyak dengan pernyataan itu. Sesuatu menohok, rubuh di dalam tanpa suara. "Baiklah..", kataku pada akhirnya, sembari ikut duduk disampingmu.

Aku bisa mendengar tarikan napasmu dan bagaimana ia terhela dengan berat. Kamu kelelahan. Baik karena terus melawanku, atau terus berpikir tentang resiko yang selalu aku ingatkan. Aku cuma ingin kau berpikir panjang, sesungguhnya. 

   "Mungkin aku bisa lakukan nanti malam saja", ujarmu, masih tidak memandangku. "Aku tidak bisa bertemu dengan Rere dengan kondisi seperti ini. Berantakan"
    "Oke..", lirihku, "terserah kau saja sekarang. Aku sudah capek terus memaksamu"
Kamu terkekeh. Aku tidak tahu apa yang lucu. Kemudian kamu melanjutkan, "Maaf jika aku jadi begitu merepotkan. Aku tahu kau bermaksud baik. Tapi yah... kau tahu sendiri aku seperti apa"
   "Apa? Banyak omongnya saja?"
   "Hehehe, yabegitulah..."

Ada hening yang menggantung. Tidak ada yang berusa meraihnya, hingga tiba-tiba kamu mulai berbicara lagi,
   "Bagaimana jika Rere mengatakan 'iya', ya?", tanyamu datar. Tapi sungguh, dari sudut mataku aku bisa lihat matamu berbinar.
   "Menurutmu bagaimana?"
   "Hebat. Hahaha, aku tidak tahu apa yang bisa terjadi selanjutnya setelah dia bilang 'ya' nanti"

Aku menoleh padamu dan ikut tersenyum. Kamu tidak berkeringat lagi. Rahangmu mengendur, dan tidak ada lipatan di dahimu. 

Aku juga tidak tahu apa yang terjadi padaku jika Rere mengiyakanmu nanti, Tio. 

23 Sep 2013

Meledak

Tanda tanya meledak.
Bunyinya memantul bergema
Terhirup bersama napasmu
Yang terhenti sebelum telinga

Tanda tanya meledak
Memecah kaca menghujam serpih
Kemudian mata bicara lagi;
Yang kilau ternyata bisa melukai

Ah. Siapa peduli.
Kamu kan, tetap tuli.


2 Sep 2013

Arena Tinju

Aku berada di ring tinju. Berhadapan dengan kenangan dan potong waktu. Bukan milikku, tentu. Mereka semua milikmu. Aku berada di ring tinju dengan bagian dirimu yang disebut 'dulu'.

Dia memang tidak memakai sarung tinju, tapi menggunakan senjata. Di tangan kiri, dan di tangan kanan. Ia pegang sebilah jarum jam seakan memegang pedang. Aku? Aku tidak punya apapun selain mengepal tangan. Wajahnya. Wajahnya yang cukup aku hantam. Tapi sial, waktu terlalu lihai.

Kamu pasti sudah melatihnya begitu baik.

Ia menghantamku tepat di puncak kepala. Buat aku lupa guna mata dan cara bicara
Kemudian menyerang di ulu hati. Meredam semua rasa dan jadi mati.
Terakhir, ia tuju pada kaki. Melumpuh aku jadi  tak bisa berdiri.

3.2.1

Aku kalah di ring tinju. Berhadapan dengan kenangan dan potongan waktu. Tidak mungkin menang, tentu. Mereka telah dilatih olehmu. Aku kalah di ring tinju dengan bagian dirimu yang disebut 'masa lalu'