11 Jul 2013

[Cerpen] Aku Marah!

Aku ingin marah. Marah sekali.  Aku ingin meledakkan kaca, atau menghantam tembok, atau memukul wajahnya !
   "Ini bukan salahmu, Ren..", ujarnya sembari menyesuaikan langkahku dengan napas memburu. 
Aku masih marah. Marah sekali. Hingga rasanya ada uap mengepul dari telingaku dan menyumbatnya. Aku tidak ingin memperlambat langkah. Aku ingin tetap menembus kerumunan walau harus menyikut tubuh-tubuh besar. Aku ingin pergi !
   "Rena !", ia memekikku dari belakang. Ia tertinggal dan berusaha menggapaiku saat tubuhnya tenggelam dalam kerumunan, "Rena ! Rena berhenti !"
Aku marah. Aku sangat marah hingga rasanya membakar pipi. Aku sadar apinya merambat ke mata hingga melelehkan sesuatu disana. Tapi aku tidak peduli.
***
   "Kau benar ingin melakukannya ?", Tia memandangku dengan khawatir, "mungkin.. kau harus berpikir dua ka--"
   "Aku sudah memikirkannya jutaan kali, Tia. Aku capek berpikir terus", jawabku defensif.
  "Ya... kadang tidak semua perlu diungkapkan, Ren", ungkapnya lagi, "Tahu kan? Nanti jawabannya belum tentu seperti yang diharapkan".
Aku menghentikan pekerjaanku. Terhenyak. Iya juga, aku belum memikirkannya. Tapi... 
   "Ah, kalau gak pernah dicoba, juga gak bakal tahu jawabannya kan?". Aku tersenyum menghiburnya. Atau juga mungkin menghibur diri sendiri. Entahlah. 
   "Oke, semoga beruntung".
***
   "Bodoh. Dasar bodoh !", aku meracau sendiri sepanjang jalan. "Tia sialan! Gilang sialan!" Umpatanku mungkin berbalapan dengan hentakan kaki. Tubuhku ramai sekali. Aku bisa merasakan pasang-pasang mata memandangku, kemudian berbisik-bisik hingga membuatku muak. 
   "APA ?!", pekikku pada seorang pria. Ia terkejut dan buru-buru memalingkan mukanya. 
Aku masih terus berjalan dan tidak mau berhenti. Aku tidak punya tujuan. Hanya berbelok, berbelok, berbelok. Aku tidak peduli kemana. Yang jelas aku ingin jauh-jauh dari jembatan tadi. Yang jelas aku ingin jauh dari sosok tadi. 
Pasti wajahku tampak mengerikan. Bajuku kusut. Rambutku berantakan dan helai-helainya menutupi pipiku yang lengket. Aku terlalu sibuk mengumpat hingga enggan menyibaknya. Aku biarkan rambut-rambut ini sebagai kacamata kuda.

 Tapi justru minimnya pandanganku membuatku tersandung. Aku terjerembab di tanah yang terasa dingin di lututku. "Sialan ! Sialan !", aku menangis dalam umpatan. Aku mengepalkan jemari dan menghantamkannya ke tanah. 

Aku benar-benar merasa kebas. Duniaku berputar dan langitku membiru. Aku tersungkur kesamping. Alih-alih bangkit, aku pilih tetap meringkuk, memeluk lututku yang dingin. Aku ingin memusuhi dunia. Aku masih merasa marah !
***
   "Aku menyukaimu".
Hening. 
   "Dari dulu. Kau pasti tak menyadarinya, ya?"
Hening. Hening. 
Aku merasa janggal sekarang. Ia masih membatu menatapku tanpa ekspresi. "Gilang? Umh.. Kau dengar aku, kan ?"
   "Kau mengajakku bertemu untuk ini?", ia akhirnya bicara, tapi wajahnya masih datar dan tak terbaca. 
   "Umh.. ya.. Tapi tidak juga sih, tapi--"
  "Tunggu", Gilang memotongku dan maju selangkah. Tatapannya berubah menjadi awas. "Apa temanmu itu belum mengatakannya padamu juga?"
   "Ah ?A..apa?", aku tergagap. 
   "Kamu", ia menunjuk wajahku, "jangan dekati aku lagi"

Aku tercenung. Kemudian mulai meresapi kata-katanya yang ternyata menohokku tepat di dada. Sakit. Mati rasa, hanya rasa sakit. Jemariku bergetar dan seketika aku memandang semuanya dari balik kaca-kaca pecah. Aku lupa aksara, hanya ucapan sesuatu yang tercekat, tertahan amarah.
   "Oke".
Aku mulai berlari dan benar-benar menjauhinya.Sejauh-jauhnya.

3 Jul 2013

[Cerpen] Duluan, Nai

Nai duduk menghampa. Berkali-kali ia susuri pandangannya pada koridor , mencari sesuatu yang semakin ia yakini hanya palsu saja.  Bahkan rasa gelisahnya sudah berganti jadi lelah.
   “Masih belum selesai, Nai?”
   “Belum. Kalau ada keperluan, duluan saja”
Sosok itu berdiri, merapikan barang bawaannya dan berlalu sambil membisik, “Duluan Nai”

Nai mengangguk kosong. Masih tidak mendengarkan dan memilih buta.

Senja menjingga. Hari siap menarik diri dan menggelapkan hati. Nai, entah kenapa masih ada rasa harap dalam dirinya. Padahal jelas-jelas sudah tidak ada lagi yang patut dinanti. Ia masih duduk memandang kosong pada koridor yang temaram.

Angin berhembus kaku. Seperti meledek, dan mengingatkan betapa bodohnya Nai masih disitu. Bayang apapun tetaplah bayang yang tak akan pernah menyata. Nai bukanlah gadis naïf, apalagi bodoh. Padahal ia sudah sadari hal ini akan terjadi. Matanya panas, hatinya beku.  Tubuh hampanya merubuh. Gravitasi malam menariknya dan menguapkan harapnya bersama naik dengan sang Dewi.

Nai menangis.

Ia kutuki gelap. Ia kutuki hati. Adalah tanda tanya kenapa lagi-lagi hati terlalu yakin dan pura-pura tuli. Satu-satu mundur menjauhinya, menjadi gelap, kemudian hilang dari pandang. Nai seperti tenggelam. Pada malam atau memang pada kesedihan yang sendiri ia ciptakan. Ia menangis lagi. Terus mengisi malam. Seakan akan ada yang dengar kemudian mengulur tangan.

Masa lalu masih menggerogotinya, hatinya, mimpinya, dan masa esoknya. Semua kenangan yang ia caci diam-diam masih Nai gantung pada langit-langit kamar. Ia ikat dengan harap sesuatu saat jarum jam akan berhent berlari dan biarkan Nai bergerak mundur.

Nai ingin merobek alur waktu.

Kemudian muncul disaat lalu, ia urai semua dan muntahkan segala tanya yang sedari dulu menohoknya. Akan Nai cari tangan yang hilang, tangan yang dulunya digenggam. Akan ia tumpahkan tangisnya, ia bongkar semua senyumnya sebelum sosok pergi jadi fatamorgana sekian kalinya.

***
   “Masih belum selesai, Nai ?”
   “Belum. Kalau ada keperluan, duluan saja”
 Sosok itu berdiri, merapikan barang bawaannya dan berlalu sambil membisik, “Duluan Nai”


***

4 Jun 2013

Detak

Permukaan kopi berdetak
Tanda kamu mendekat ?
Atau tanda ia siap jadi ledak ?

Permukaan kopiku berdetak
Kamu lihat ?
Berarti penantian ini bisa aku sebut layak

Permukaan kopiku berdetak
Semoga lebih cepat
Karena senja hendak tutup diri
Malu melihat aku terbodohi

8 Mei 2013

[Cerpen] Untuk Kamu


Sedang berusaha untuk menciptakan tokoh cowok yang gak menye-menye. Dan..........gagal :( huhuhu

***

Dia masih berdiri di depan, dengan secarik kertas di tangan yang ia genggam kuat-kuat. Aku tidak bisa menebak ia terlalu bersemangat atau terlalu takut. Wajahnya tampak datar saja. Sesekali mengulum senyum ketika teman-teman menyorakinya.

   “Dia mau apa ?”, Tio menyikutku.
   “Entah. Membacakan sesuatu ?”, aku hanya menggidik bahu.

Tentu saja aku berbohong. Aku tahu apa yang akan dia lakukan. Aku tahu bakat apa yang akan ia tampilkan di Minggu Bakat pelajaran Seni Budaya ini. Ia sudah menyiapkannya dari jauh-jauh hari. Bahkan mungkin ketika pertama kali Pak Damar memberitahukan seisi kelas tentang project ini.

Aku sering melihatnya berdiam diri di kelas ketika istirahat. Kemudian mulai mencorat-coret sesuatu di buku birunya. Tersenyum, merengut, kemudian tampak begitu bersemangat. Bagaimana aku tidak penasaran?

Awalnya memang tidak. Tapi pada suatu kesempatan, aku tak sengaja melihat isi buku birunya. Isinya berantakan. Garis garis pulpen hitam dan merah memenuhi halaman.

Dan huruf-huruf yang terangkai jadi bait-bait.

Aku tidak berani melihat lebih lama apalagi membacanya. Entahlah. Aku rasa buku itu bersifat pribadi. Tapi semakin lama aku semakin yakin. Aku semakin sering memperhatikan raut wajahnya ketika menulis, sembari menerka kata-kata apa yang sedang ia rangkai. Apa ia buat sedih, buat senang, atau buat yang penuh amarah.

Dan aku tidak pernah berhasil membaca wajahnya.

Sama seperti sekarang. Dia masih berdiri dengan wajah yang tidak terbaca ekspresinya. Anak-anak di kelas sudah tidak lagi memperhatikannya. Mungkin hanya aku dan Pak Damar yang masih berusaha menyimak bisunya.

   “Ehm, baik Luna. Apa yang ingin kamu tunjukan kepada teman-teman?”, Pak Damar angkat bicara, “Apa kamu hendak membacakan sesuatu ?”

Kelas diam. Kembali memperhatikan dia di depan.  Tapi masih bisu saja yang terdengar. Hingga akhirnya, Pak Damar menyerah, “Baiklah.. mungkin kita lihat tampilan dari teman-teman yang lain dulu. Luna bisa duduk kembali...Selanjutnya ?”
***

Bangku Luna kosong. Tidak ada buku biru di kolong mejanya seperti biasa. Harusnya aku tidak perlu memikirkannya.  Tapi toh pada akhirnya aku coba keluar kelas mencari Luna.

Tak sulit. Luna ternyata ada di bangku dekat lapangan. Sedang melihat ke keramaian dengan Oreonya. Aku sadar aku semakin aneh ketika berpikir harus duduk disampingnya, kemudian mengajaknya bicara. Untunglah aku tidak sempat melakukan hal bodoh tersebut karena bel telah berbunyi lagi.

Untunglah ? Aku rasa tidak juga.
***

Begitulah hari selanjutnya. Aku semakin jarang melihat Luna di kelas. Mungkin hanya beberapa menit, mengeluarkan buku birunya, kemudian menutupnya kembali dan keluar kelas. Tentu saja duduk di bangku yang sama dengan makanan yang sama.

Hingga akhirnya aku tidak tahan lagi. Sudah kukumpulkan niat untuk melangkah menghampiri Luna, tapi kemudian merasa bodoh. Apa yang harus aku katakan? Tiba-tiba mengajaknya bicara tanpa alasan ? Jika kemudian Luna tidak merespon apapun, aku akan benar-benar tampak seperti orang bodoh yang sedang berusaha menarik perhatian.

Tapi siapa sangka. Kaki ini dapat melangkah sendiri.

   “Hei, sendiri aja ?”, kata-kata itu meluncur bebas. Aku menatapnya ragu, dan kemudian mendapat Luna yang terkejut. Hebat. Aku hampir membuat orang lain jantungan hanya dengan membuka percakapan.
   “Umh, Ya. Ada apa Raka ?”, Luna bicara seperti melirih, kemudian melanjutkan dengan polosnya, “Apa sudah bel masuk ?”
   “Ah ? Tidak tidak.. Maksudku belum bel. Santai saja…”, padahal justru aku yang tidak bisa santai, “kenapa tidak di dalam kelas?”

Luna tidak menjawab.  Ia hanya tersenyum. Persis ketika ia berada di depan kelas dan disoraki. Aku mulai bersiap mengutuki diri sendiri karena telah berpikir melakukan hal yang konyol , tapi kemudian Luna memandangku dan bicara,

   “Minggu ini kamu belum kebagian maju untuk tampil Minggu Bakat ?”, tanyanya.
   “Belum. Mungkin minggu depan. Nomer urutku cukup jauh”, aku diam sejenak menarik napas, “ dan, kenapa Luna tidak jadi maju minggu ini?”

Kini Luna tampak lebih tegang. Ia mengalihkan pandangan menuju sepatunya. Mungkin aku salah bicara. Ah yaampun. Bodoh bodoh bodoh.

    “Aku belum siap. Yang ingin aku tunjukan sebenarnya belum jadi….”, Luna melirih lagi.

Bohong. Luna berbohong.

   “Belum jadi ? Memang sudah sejauh mana puisimu ?”
   “Dari mana kamu tahu aku akan membacakan puisi ?”

Skak mat. Lihat aku Si Bodoh  Bermulut Besar.

   “Umh.. yah, hanya menebak”, kini aku yang gelisah, “apa memang benar kau akan membacakan puisi ?”.
Luna bungkam lagi. Ia menatapku sekilas, kemudian membuang muka sambil mendesah, “Bagaimana jika aku maju lagi, kamu tak perlu memperhatikanku seperti yang lain saja ?”
   “Apa ? Maksudm—“
   “Jangan lihat aku”, ia berhenti sejenak dan berdiri, “Apa kau pikir mudah membacakan puisi tentang kamu jika kamu terlalu memperhatikanku seperti itu ?”

Ia berlalu dengan wajah merah.

Aku beku dan berusaha mengurai artinya.

7 Mei 2013

Senang

Aku tidak jadi mundur. Tapi tidak juga akan bergerak maju. Diam saja. Menikmati semuanya yang sekarang aku punya.

Aku tidak mundur kemudian menjauhi. Jadi naif kembali dan berpura-pura tak pernah ada apa-apa.
Tapi tidak juga akan maju kemudian mengatakan. Cukup diam dan biar tak ada tanda tanya yang diberikan.

Jadi, tolong mengertilah.
Tetaplah berada ditempatmu dan jangan hindari aku. 
Aku janji tidak akan ganggumu lagi. 
Aku diam.

Karena aku senang jadi bayang :)